Luar biasanya seorang ibu

Jaman muda single ceria dulu, aku tuh suka gengges gemes kalo liat emak emak lagi ngomel atau ngeluh sama anaknya.

Di pikiran gw waktu itu,
Ya elaah.. galak bener sih jadi ibu ibu. Gak ikhlas bener sih ngurus anak..

Tapi,
Semua berubah saat ngerasain punya anak sendiri.

OH IYA, ternyata jadi seorang ibu itu beban kerjanya luaarrrr biasa. Dan gak ada berhentinya.

The truth is, bayi bayi kita
di dunia nyata ini, ternyata gak seanteng yang ada di tipi. Dan mereka gak selalu ketawa lucu, kayak di iklan sabun dan minyak telon itu.

Menjadi Ibu itu, melelahkan. I'm telling you the truth. Iya, ini emang pekerjaan mulia. Iya, balesannya syurga. Ya tapi emang capek, kan?

Dan perlu dicatat, ini gak ada hubungannya sama kadar keimanan.

Disitulah baru ku pahami, mengapa emak emak menjelma menjadi makhluk yang ingin dimengerti.

Lalu berita akhir akhir ini. Seorang Ibu menyakiti anaknya sendiri. Pelajaran penting bahwa MAK, marah dan ngomel sama anak itu wajar TAPI saat terlintas berkali kali di pikiranmu, keinginan menyakiti wajah wajah polos itu, segera carilah bantuan! Bicara pada suami, curhat pada teman, apapun itu bentuknya, pergilah mencari bantuan.

Dan ini, jadi alarm kuat bagi kita semua.

Saatnya melakukan introspeksi, sudah sejauh mana kita menjadi lingkungan yang memberdayakan, empowering satu sama lain, suportif, dan gak sibuk mencela sana sini?

Hey,

Mungkin kita adalah suami yang sibuuuk sekali. Lupa memeluk dan berterimakasih pada istri. Sekedar mengucapkan syukur dan memujinya, karena sudah mengurus anak setiap hari. Padahal dicari keujung dunia pun, apa yang dilakukan sang istri, tak ada yang bisa mengganti..

Mungkin kita adalah sahabat, yang menganggap sepele saat ia ingin curhat. Alpa untuk sekedar berkata, "Hey, jadi Ibu itu gak papa kok kalo mau bilang capek!", bukan malah memanas manasinya dengan cerita parenting kita yang sempurna segala rupa sampai ia merasa kualitasnya sebagai Ibu tidak ada artinya..

Mungkin kita adalah orang tu dan mertua, yang susah menahan diri untuk berkomentar. Mengkritiknya di sana sini. Membandingkan dengan cara parenting kita di masa lalu. lupa bahwa si Ibu punya insting yang terasah pada anaknya. Dan tentu, ada harga diri sang Ibu yang harus berusaha kita jaga..

Dan mungkin kita adalah orang yang tak sengaja bertemu dengan si Ibu di pusat perbelanjaan. Jelas jelas belum kenal tapi berceletuk nakal, "Anaknya kurus ya mba? ASInya kurang ya??"

Atau selintas berkomentar, "Ibunya kerja sih.." juga, "Sekolah tinggi tinggi cuma ngurus anak doang? Seriously??" Niatnya mungkin becanda, tapi buat Ibu baru yang masih meraba-raba, sungguh perih rasanya..

Sayang,

Ada kepekaan yang mesti lebih di asah, bagi kita sebagai orang disekitarnya.

Untuk meyakinkan, bahwa menjadi Ibu bukanlah perjuangan sendiri.

Moms, let's judge less, and support more!

copas jayaning hartami

Post a Comment

Popular Posts